Out Of Boundaries

Sebuah tulisan oleh IcaQenter

Secara gampang, aku mengartikan outbound sebagai out of boundaries, artinya keluar dari lingkaran. Manusia kebanyakan membentuk lingkaran kenyamanannya sendiri dan jarang mau didorong untuk keluar lingkaran padahal ada banyak kehidupan di luar lingkaran. Contohnya :

Mahasiswa yang dalam kesehariannya menjadi kupu-kupu (kuliah  pulang kuliah pulang) seharusnya keluar ke garis nyaman dengan ikut kegiatan. Misalnya ikut demo, demo disini bukanlah unjuk rasa (turun ke jalan) tapi lebih ke demo panci atau demo masak. Selain mendapat panci, mahasiswa dapat membekali diri dengan membuka usaha kuliner.

See? Itulah maksud dari outbound, setidaknya menurutku. Nah, kenapa outbound diartikan sebuah permainan? Secara bodoh, aku mengandaikannya seperti ini.

Combed, mahasiswa yang tak tentu hidupnya. Hanya tahu kuliah pulang kuliah pulang. Mending nilainya bagus. Hidupnya hanya diisi dengan Maria Ozawa dan Maria Mersedes (telenovela nda!). suatu ketika Combed diajak main flying fox oleh temennya yang ganteng nan menawan bernama IcaQ. Flying fox adalah permainan yang menantang diri sendiri, menantang keberanian seseorang dalam menghadapi ketinggian. Kekhawatiran dalam menghadapi tingginya tebing, jauhnya jarak dan siapa tahu ditengah jalan macet (dipikir ada Sikomo lewat).

Combed yang malu-malu mau menerapkan “out of boundaries” dengan menantang dirinya sendiri. Berhasil!

Kisah di atas hanya rekayasa, jika ada kemiripan tokoh maka penulis memang bermaksud begitu.

Jadi temen-temen sekalian yang secara tidak sengaja membaca posting ini, outbound dalam pemikiranku adalah semua kegiatan yang menantang kita untuk keluar dari kebiasaan atau setidaknya belajar hal yang baru dengan cara yang berbeda. Tidak harus di alam terbuka. Outbound adalah alat mengembangkan diri.

Zaman dulu Go Back To Door atau orang jawa menyebutnya Gobasodor merupakan permainan anak-anak biasa. Padahal dalam proses bermain Gobasodor ada “nilai” yang untuk mengembangkan diri. Mempelajari kepercayaan, strategi, kecepatan, kerja sama dan lain sebagainya yang mungkin pelajaran itu hanya diajarkan dalam PPKN (Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan) dengan cara teks book. Konon, pelajaran ini disampaikan dengan penyampaian yang kurang menarik. Mari mengandai lagi.

Panji adalah anak yang lumayan pinter dalam pelajaran PPKN, tapi dia tidak tahu cara menerapkan nilai kerjasama. Dia pelitnya minta ampun, tidak mau berbagi dengan temannya. suatu ketika panji diajak main Gobasodor oleh temennya yang ganteng nan menawan bernama IcaQ. Panji jadi tahu penerapan bahwa manusia itu mahlum sosial. Tidak boleh egois dan harus kerjasama.

Intinya temen-temen sekalian, pengalaman dan Out Of Boundaries itu menjadi guru yang baik dalam proses pembelajaran. Mari kita hidup dengan menerapkan “outbound” karena banyak kehidupan yang menyenangkan di luar nalar kita!

Semoga bermanfaat.

2 thoughts on “Out Of Boundaries

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s