I’m Sunrice Ranger and I’m Proud

Sebenarnya, bingung mau nulis apa. Atas permohonan seseorang, aku menulis tentang Sunrice, UKM tercinta semasa kuliah. Karena ga ada ide, aku nulis ngawur saja. Yang ga mudeng dengan tulisanku ini maap yah, untuk kalangan terbatas tahu kok.😀.
– Albertus Wicaksono

Ketika mengingat Sunrice, aku mengibaratkan diriku ini sebagai  Penyu. Penyu selalu menetas di pantai dan akan kembali bertelur ke tempat yang sama. Mohon digarisbawahi yang kembali saja bukan yang bertelur. Sunrice tempat yang selalu aku kangenin. Kangen ketua-ketua masa lalu.

Mbak Dewi : Dengan awal pembentukan Sunrice dan konsep yang sampai sekarang masih diteruskan seperti bola salju yang semakin menggelinding semakin besar saja.

Mbak Anis : Dengan pemikiran tak terjangkaunya (Sumpah. Setiap mbak Anis nulis note, aku ga mudeng. Apa karena suaminya (bersuku bangsa) Cina dan kalo baca perlu google translate?)  serta pohon jambu depan TC kesukaannya.

Mas Lintang : Dengan pelajaran corelnya, base camp Lab analisis datanya dan dengan #kode “Lebah”nya
Obrolan masa lalu :
IcaQ “newbie” : Mas, punya bokep ga?
Lintang “pemasok” : Hush! Ingat! Pake #kode “lebah”!
IcaQ “newbie” : baiklah!!

Mbak Didut : Dengan istilah “Rangers”nya, dengan kata-kata ajaibnya yang bikin terperangah karena terkesima yang ternyata setelah beberapa bulan tertipu, kata-katanya itu dari orang lain dan dipakai sama Didut.
Mekanisme kata-kata didut :
sumber informasi : tau ga dut, bintang laut itu ga punya otak (ngomong biasa)
Didut : ndak iya?
Besoknya di kampus,
Didut : kalian tau ga? Bintang laut tu ga punya otak lho! (ngomong hiperbola)
Korban kebiadaban : Mbak Didut pinter! Keren! Bombastis!
Damn you dut! Damn!

Ade : dengan ide “gila”nya. Rafting, reuni Sunrice, baju lapangan, nomor registrasi, magang. Dan dengan base camp Sunrice. BTW, Ade dikenal dengan ketua “orientasi uang” yang mana aku bingung padahal Yoyo lebih gila uang dari Ade yang maniak dagang

Nandi : dengan kemampuan pertolongan pertamanya selanjutnya terserah anda dan dengan suara falesnya. Nandi, ga semua orang bisa fales. Kamu harus bangga! Bangga! Ups, sory, aku ralat. Kamu harusnya malu! Malu! Sana bikin grup band sama Ade dan Bagus. Kasih nama aja LINGUA “bila kuingat… senyum manismu…” eh kok jadi nostalgia gini?

Tyas : dengan…. Hm….. dengan….. denganku hidupmu pasti jadi lebih sempurna #eaa. Wehe, maap Tyas. Aku ga ngerasain pas ketuanya kamu. NEXT!

Aku juga kangen dengan ngopi dan ngobrol malem hari bersama temen-temen Sunrice.
Danu dengan pemikiran, pengetahuannya dan kenaasan rambutnya,
Yoyo dengan guyonan dan kenakalannya (ini siapa ya yang kasih lombok rawit di dalem tahu isi? YOYO!)
dan Combed dengan bahan celaan atas icon “homo” yang melekat ke dia (Combed telah mewarisi kehomoannya ke Panji, selamat ya Panji. Kini kalo boker ga susah lagi. Bekas Combed sih)

Tapi yang namanya Penyu, harus bertelur juga. Dan tolong ya, pemikirannya yang bertelur itu berjenis kelamin cewek, kalo tiba-tiba ada yang kasih komen, “ah IcaQ gimana sih” kalian akan aku doakan berjodoh dengan Combed. Ini serius! Kalian pasti takut kan? Karena Combed adalah kutukan paling mematikan daripada Sumanto. Sampai mana tadi?

O iya, Penyu kembali ke pantai untuk bertelur, menghasilkan anak-anak yang baru. Dan begitulah kehidupan. Yang lama akan pergi dan yang baru akan terus ada. Membawa idealisme Sunrice. Membangun Sunrice lebih besar lagi. Kami para pendahulu hanya bisa mengajarkan hal yang simple, seperti 1 + 1 = 2. Dengan membangun Sunrice yang lebih besar, telur-telur baru akan mampu berkreasi lebih indah seperti 1 + 1 tidak selalu 2, tetapi bisa 1 + 1 = 4 – 2.

Ilmu dari pendahulu ke anak baru diibaratkan seperti konsep “gelas kosong”. Para pendahulu sudah siap menuangkan air dengan berbagai macam cara. Dan anak baru siap menerima air yang tertumpah. Tapi yang perlu di ingat bahwa para pendahulu hanya bisa memberikan “air putih” dan anak baru harus mampu “memberi rasa” pada tiap gelas yang ada. Di masa yang akan datang tentu sangat bangga jika ada film “oh! Ini pasti karyanya si IcaQ” atau “oh! Film ini pasti karyanya si Panji” karena di tiap karya selalu ada “rasa” yang spesial dari tiap karakter.

Selamat untuk Stee telah menjadi ketua selanjutnya menggantikan Tyas. Jadi ingat kemaren waktu Stee dipilih dan ngomong untuk pertama kali sebagai ketua. Stee mulai dengan sebuah opini yang menurutku  pesimis. Kala dari ceritaku di atas, semua ketua diingat sebagai diri mereka sendiri, ga ada yang sempurna. Jadi D’masiv biar begitu ada benernya juga, karena kesempurnaan itu cuma milik Tuhan dan milik Andra and The Backbone.

Mereka dikenang karena mereka tidak pernah ingin tampak sempurna. Yang mereka lakukan adalah mencoba yang terbaik. Itu terbukti. Buktinya Sunrice masih ada sampai sekarang. Titip Sunrice yah…

Mari kita besarkan Sunrice yang telah membesarkan kita.

Akhir kalimat, aku cuma bisa bilang

I’m Sunrice Ranger and I’m Proud

 

Sunrice Rangers

5 thoughts on “I’m Sunrice Ranger and I’m Proud

  1. Muantaappp…thanks a lot for Icak, and all the family of Sunrice..tp ak penasaran dr smua memory itu, knp lebah itu yg trtanam ya Ca?

  2. ampun mas.. ampun.. aku ingat jg bahwa dirimu seng jadi guru corel dan yg memaksa keluar lingkaran kenyamanan kok.. sungguh!!

  3. GOOD storyyyy….!!
    tp, ini kpn d buat mas? hhuuu…. *kurang puas nih, request ku beLumm.. soaL ‘kenapa kok masuk jd SR susah, emang kriterianya gmn?’ sama ‘kenapa bukan matahari sama beras?’ (hayooo… cb tny pendirinya mas.. hhoho..)
    ituu beLuuummm..

  4. Hahahahaa…bahasamu sungguh trpuji, ngko pasti dsanjung Anis kwe Ca ‘memaksa keluar dari lingkaran knyamanan’ dlm bhasaku, aku dipekso kudu iso, disenen2i..diunek2ke…hahaha…

  5. Appiikkkk Cak!!! Dadi kangen karo pohon jambu depan TC…..
    Setubuh sama tulisanmu “selalu ingin kembali”, itu juga yang aku rasakan. Setiap inget jaman kuliah dulu hal pertama yang diingat adalah Sunrice. Ga tau gimana di Sunrice bisa bertemu dengan orang-orang yang klop (memang ga semua, karena pada akhirnya seleksi alam juga terjadi di sunrice. Mungkin hanya orang-orang “gila” saja yang akhirnya bertahan).

    Tapi seingetku sampai angkatan 4 (dan 4 ½) yang masih sempat mengalami dan ikut proses rekrutmennya, anggota sunrice justru bukan orang-orang hebat, bahkan bisa dibilang kami adalah orang-orang terpinggirkan. Klo ga percaya coba liat aku dan beberapa angkatan lama laennya. Kami bukan aktivis ataupun orang yg populer dikampus. Jadi kalau ada yang bilang susah masuk sunrice aku justru heran koq sunrice milih anggota kayak aku.

    Dan menyenangkannya setiap ketua sunrice punya gaya kepemimpinan yang berbeda2 (aku taunya sampai jamannya ade). Selalu ada warna yang berbeda setiap ganti kepemimpinan. Mulai dari mbak Dewi yang kalem dan berkharisma, ganti aku yang diplomatis dan abu-abu (kadang lembut tapi juga sering keras banget), trus lintang yang sangat diktator hingga menerapkan sistem “kerja rodi”, beralih ke didut yang menetralkan gaya kepemimpinan sebelumnya dengan keceriaan, kekonyolannya dan keakrabannya, dan ade dengan ide2 gilanya yang ga akan terpikir oleh orang lain.

    Sunrice memilih ketua sesuai dengan kebutuhannya saat itu, klo ditengok kebelakang aku dan lintang memang tipe pemimpin yang cenderung otoriter dan kejam karena pada saat itu sunrice masih mbabat alas (bayangkan dulu anak psikologi aja ga tau apa itu sunrice) dan masih banyak belajar untuk menemukan bentuk. Namun ketika sunrice sudah mapan dan masing2 anggota sudah tau peran masing2 maka yang dibutuhkan adalah ketua seperti didut yang mempererat dan ade yang penuh iniovasi. Mereka berdua sama sekali bukan pemimpin yang otoriter, bahkan untuk memerintahpun sungkan, mereka adalah pemimpin yang menyemangati dan mengakrabkan.

    Tulisanmu ini kembali mengingatkan akan perbedaan2 itu, yang membuat Sunrice semakin bertumbuh dan berwarna, Good Job!
    #Smoga commentku kali ini ga butuh google translate

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s